Archive for 2018
Petunjuk tentang Perlengkapan, Pemakaian, dan Pengangkutan
Pada prinsipnya, semua Ketel Uap didalamnya terdapat
air yang dipanaskan oleh pelat dan atau pipa Ketel Uap dimana pelat dan atau
pipa tersebut dipanaskan oleh gas panas hasil pembakaran bahan bakar sehingga
air tersebut mendidih dan berubah menjadi uap ( steam ) yang
tekanannya melebihi tekanan udara atmosfer.
Bahan bakar yang dipakai ada 3 jenis, yaitu ; 1) ada
yang menggunakan bahan bakar padat antara lain batu bara, cangkang, serabut
kelapa sawit dan atau kayu, 2) bahan bakar cair yaitu solar, dan 3) bahan bakar
gas yaitu Liquid Natural Gas ( LNG ).
Apabila uap didalam drum boiler mencapai tekanan
tertentu maka suhu uap tersebut akan memiliki temperatur tertentu pula.
Sebagai contoh; Ketel Uap yang memiliki tekanan kerja 10 Kg/Cm2
maka temperatur uap dalam drum Ketel Uap sekitar 1790 C, jika tekanan
kerjanya mencapai 20 Kg/Cm2 maka temperatur uap dalam drum Ketel Uap yang
bersangkutan sekitar 2130 C, kemudian jika tekanan uap dalam drum Ketel Uap
mencapai 40 Kg/Cm2 maka temperatur uap dalam drum Ketel Uap tersebut
sekitar 2500 C.
Ketel Uap yang dipakai di pabrik pulp pada
umumnya bertekanan kerja sekitar 100 Kg/cm2, pada pabrik gula dan pengolahan
kelapa sawit bertekanan kerja sekitar 20 Kg/Cm2, dan Ketel uap pada pabrik
makanan minuman, pabrik minyak makan, pabrik ban , hotel dan rumah sakit pada
umumnya bertekanan kerja sekitar 10 Kg/Cm2. Dengan tekanan dan temperatur
uap yang demikian tinggi didalam Ketel Uap, maka berarti pada setiap
pengoperasian Ketel Uap terdapat potensi bahaya yang apabila Ketel Uap tersebut
pecah akan dapat mengakibatkan kerusakan bangunan perusahaan dan korban jiwa.
KUNCI
PENTING PEMAKAIAN KETEL UAP SECARA AMAN
Telah
dijelaskan diatas betapa pentingnya suatu ketel Uap pada perusahaan-perusahaan
tertentu, tetapi juga betapa besar potensi bahaya yang terkandung didalam
pemakaian Ketel Uap tersebut. Sebagaimana yang diatur dalam Peraturan
Perundang-undangan K3 yang berlaku di Indonesia, maka untuk pemakaian suatu
Boiler pemakai perlu memperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam
hal pengadaan
Bagi
Pengusaha yang akan membeli Ketel Uap yang akan dipakai di perusahaannya,
pilihlah Ketel Uap yang pembuatannya memenuhi prosedur yang berlaku.
Sebagai contoh, misalkan akan membeli Ketel Uap pipa api ( Fire Tube Boiler )
baru buatan dalam negeri, maka sangat perlu diperhatikan, apakah Boiler
tersebut memiliki dokumen meliputi ; 1) Gambar konstruksi, 2) Gambar detail
sambungan, 3) Sertifikat bahan, 4) Perhitungan kekuatan konstruksi, 5) Surat
keterangan hasil Radiography Test dan atau Ultrasonic Test sambungan las
dan 6) Laporan pengawasan pembuatan pesawat uap yang ditandatangani engineerperusahaan
pembuat boiler yang bersangkutan dan Pengawas Ketenagakerjaan spesialis Pesawat
Uap.
2. Dalam
hal pengoperasian
a. Pemakai
jangan mulai memakainya sebelum dilakukan pemeriksaan dan pengujian
pertama oleh Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( AK3) spesialis Pesawat Uap
dari Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) yang memiliki
Surat Keputusan Penunjukan (SKP) dari Dirjen Pembinaan Pengawasan
Ketenagakerjaan Kemenakertrans R.I atau Pengawas Ketenagakerjaan spesialis Pesawat
Uap yang kemudian dinyatakan telah memenuhi syarat K3 olehnya yang dibuktikan
dengan diterbitkannya Akte Izin Ketel Uap tersebut dari Dinas Tenaga
Kerja / Instansi yang berwenang di daerah yang bersangkutan.
Menurut peraturan yang berlaku, khusus untuk Ketel Uap yang
direntalkan, Akte Izinnya diterbitkan oleh Dirjen Pembinaan
Pengawasan Ketenagakerjaan Kemenakertrans R.I.
b. Air
umpan Ketel Uap ( Feed Water Boiler )
yang digunakan harus selalu memenuhi standar dengan melalui proses
water treatment. Untuk mengetahui kepastian memenuhi standar atau tidaknya air
umpan tersebut maka pemakai perlu mengujikannya ke Laboratotium penguji air
yang dinilai mampu dan hasil ujinya akurat. Selanjutnya hasil uji air umpan
bandingkan dengan standar yang berlaku antara lain mengenai ; pH, kesadahan
total, oksigen dan lain-lain dari feed water boiler yang akan digunakan.
c. Pekerja
yang mengoperasikannya harus yang sudah terlatih dan berpengalaman yang
dibuktikan dengan Sertifikat operator Ketel Uap yang diterbitkan oleh Dirjen
Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kemenakertrans R.I. Untuk Ketel Uap
berkapasitas 10 Ton/jam atau lebih, pekerja yang mengoperasikannya harus
bersertifikat operator Pesawat Uap kelas I, sedangkan untuk Boiler berkapasitas
kurang dari 10 Ton/jam , pekerja yang mengoperasikannya harus bersertifkikat
operator Pesawat Uap kelas II.
d. Ketel
Uap yang sedang operasi tidak boleh ditinggalkan oleh operator yang bertugas
melayaninya. Artinya Ketel Uap yang sedang beroperasi harus selalu ada operator
Pesawat Uap yang melayani di ruang Ketel Uap yang bersangkutan.
e. Setelah
beroperasi beberapa lama, maka pemakai wajib memeriksakan Ketel Uapnya secara
berkala kepada AK3 spesialis Pesawat Uap dari PJK3 yang memiliki SKP dari
Dirjen Pembinaan Pengawasan Kemenakertrans R.I atau kepada Pengawas
Ketenagakerjaan spesialis Pesawat Uap. Untuk Ketel uap yang dipakai di kapal
laut perusahaan pelayaran pemeriksaan berkalanya minimal sekal tiap tahun,
untuk Ketel Uap yang dipakai di darat pemeriksaan berkalanya minimal sekali
tiap 2 tahun, untuk Ketel Lokomotif pemeriksaan berkalanya minimal sekali tiap
3 tahun.
f. Untuk
melakukan perbaikan, penggantian atau perobahan kostruksi dan atau
perlengkapan Ketel Uap, pemakai wajib melaporkan terlebih dahulu ke Dinas
Tenaga Kerja setempat, sehingga pemeriksaan khusus dapat dilaksanakan
sebagaimana mestinya dan pemakai memperoleh petunjuk-petunjuk antara lain
teknik pengerjaannya, standar bahan, pengelasan dan sebagainya yang harus
dipenuhi.
g. Agar
kerak ketel ( scale ) yang terjadi di dalam Ketel Uap tidak
semakin tebal dan keras yang dapat mengakibatkan over heating (
pemanasan lebih ), maka sebaiknya Ketel Uap secara teratur dilakukan cleaning dengan
cara manual, mekanis maupun chemis oleh orang yang ahlinya. Jika di dalam
Ketel Uap bebas scale maka akan berdampak positip terhadap
efisienci dan life time Ketel Uap yang bersangkutan.
Keselamatan Pesawat Uap dan Bejana dengan Bahaya Peledak
//Kamis, 22 November 2018
//Posted by Unknown
KEAMANAN, KESEHATAN dan KESELAMATAN KERJA
(K3)
Perkenalkan nama saya M. Irfan Andhika
Nugraha, mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma. Saya berfokus
pada penerbangan atau hal yang berbau aviation. Pada kesempatan kali ini saya
ingin membagikan pelaksanaan K3 (keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja) Kerja
Praktik saya selama melakukan Kerja Praktik di Satuan Pemeliharaan (Sathar) 31,
Depohar 30 TNI AU, Malang. Tentunya di setiap workshop harus memperhatikan
keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja. Sebelum saya menceritkan kisah saya,
mari kita bahas pengertian dan tujuan K3
terlebih dahulu.
Pengertian K3 dibagi menjadi 2 pengertian,
yaitu :
a. Secara
Filosofis
pemikiran atau upaya menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmani maupun rohani, tenaga kerja pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya terhadap hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
adl dan makmur.
b. Secara
Keilmuan
Ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam
usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Tujuan dari k3:
a. Melindungi
kesehatan, keamanan dan keselamatan dari tenaga kerja.
b. Meningkatkan
efisiensi kerja.
c. Mencegah
terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Sathar 31 memiliki
banyak workshop untuk menunjang proses maintenance mesin pesawat C-130
Hercules. Workshop tersebut adalah PPM, Engine Shop, Cleaning Room, Bengkel
Penelitian, Metal Spray, Permesinan, Marshalling, dan Performance Test. Sebelum
saya memulai kerja praktik, terlebih dahulu saya diberitahukan mengenai apa
saja yang wajib saya kenakan untuk APD (Alat Pelindung Diri) saya untuk di tiap workshop yaitu wearpack,
dan safety boot. Untuk APD lainnya berbeda beda di tiap workshop.
Untuk workshop PPM, APD
tambahan yang diperlukan adalah safety glass karena ditakutkan ada oli yang
menyembur ataupun baut dan semacamnya yg terlempar saat membuka QEC Enginge.
Untuk di Engine shop, APD tambahan yang digunakan adalah safety glass, dan
sarung tangan, karena di sini kita akan membuka engine sampe ke komponen
terkecilnya sehingga diperlukan keamanan untuk tangan dan mata kita. Untuk
cleaning room APD tambahannya adalah sarung tangan dan safety glass. Di
cleaning room harus berhati hati terhadap larutan cleaningnya. Di bengkel
penelitian tidak diwajibkan memakai safety glass dan sarung tangan karena
disini mengecek dimensional dari komponen. Di bengkel permesinan APD tambahan
yang digunakan adalah safety glass hal ini diperlukan karena percikan atau
serpihan besi permesinan bisa mengenai mata. Di metal spray workshop, APD
tambahan yang wajib digunakan adalah masker, welding googles atau helm las
karena semburan api yang sangat menyilaukan saat metal spray dapat membahayakan
mata, sarung tangan safety. Pada saat performance test APD tambahannya adalah
earplug atau penutup kuping karena suara bising dari suara engine dapat
membahayakan telinga.
MAKALAH
PERAWATAN MESIN
BUBUT MAXIMAT DAN SIMONET
Disusun Untuk Memenuhi Syarat
Menyelesaikan Mata Kuliah
Teknik Perawatan Mesin
Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma
Disusun
Oleh :
M. Irfan Andhika Nugraha 23415959
JURUSAN
TEKNIK MESIN
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
DEPOK
2018
DAFTAR ISI
Daftar Isi ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................. 3
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................. 3
1.4 Ruang Lingkup
Materi ..................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian perawatan mesin ............................................ 5
2.2 Jenis-jenis
perawatan mesin............................................... 5
2.3 Tujuan Perawatan Mesin (Maintenance)........................... .. 7
2.3 Langkah
Kerja Maintenance Mesin
Bubut Maximat dan
Simontek............................................................................ .. 7
Simontek............................................................................ .. 7
BAB III PENUTUP
3.1 kesimpulan ..................................................................... 9
PENDAHULUAN
1.1 1.1 Latar Belakang
Tak dapat dipungkiri
bahwa revolusi industrI telah menyebabkan perubahan sistem industry yang
dulunya berfokus pada buruh sekarang digantikan dengan mesin-mesin yang jauh
lebih murah dan dapat bekerja dengan jam kerja yang lebih lama terutama mesin
bubut yang merupakan salah satu mesin dasar dalam pembentukan alat atau barang.
Tentunya bila mesin ini digunakan secara terus menerus maka akan terjadinya kerusakan
atau kerja mesin yang kurang sempurna. Untuk mencegah terjadinya kerusakan atau
hal yang tidak diinginkan tersebut maka perlu diadakannya maintenance (perawatan).
Perawatan mesin merupakan kegiatan
yang dilakukan untuk menjamin suatu mesin/peralatan, agar tetap dapat berfungsi
dengan baik pada kondisi yang dapat diterima. Produk dari suatu
industri industri yang berdaya saing harus memenuhi syarat-syarat: kualitas
baik, harga pantas dan dapat diserahkan ke konsumen dalam waktu yang tepat
Oleh karena itu proses produksi harus didukung
oleh mesin/peralatan yang siap bekerja setiap saat dan handal. Untuk mencapai
hal itu maka mesin/peralatan penunjang proses produksi memerlukan program
perawatan yang teratur dan terencana.
1.2 1.2 Tujuan
Penulisan
Tujuan yang ingin
dicapai pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui secara umum pengetahuan
tentang teknik perawatan mesin (Maintenance).
2. Mengetahui proses atau
tata cara dalam perawatan mesin (Maintenance)
Maximat
dan Simonet.
3. Diharapkan dapat
menerapkan ilmu tentang perawatan mesin (Maintenance)
yang telah di pelajari ke dalam dunia industri
1.3
Ruang Lingkup Materi
Adapun ruang
lingkup materi yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Pengertian
Perawatan Mesin (Maintenance)
2. Jenis
Jenis Maintenance
3. Tujuan
Maintenance
4. Langkah
Kerja Maintenance Mesin Bubut
Maximat dan Simonet
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Perawatan Mesin (Maintenance)
Menurut M.S. Sehwarat dan J.S. Narang, (2001) dalam bukunya “Production Management” pemeliharaan (maintenance) adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan secara
berurutan untuk menjaga atau memperbaiki fasilitas yang ada sehingga sesuai
dengan standar. Dengan kata lain, maintenance
adalah kegiatan yang diperlukan untuk mempertahankan (retaining) dan
mengembalikan (restoring) mesin ataupun peralatan kerja ke kondisi yang terbaik
sehingga dapat melakukan produksi dengan optimal.Dengan berkurangnya tingkat
kerusakan mesin dan peralatan kerja, kualitas, produktivitas dan efisiensi
produk akan meningkat dan menghasilkan profitabilitas yang tinggi bagi
perusahaan.
2.2 Jenis-jenis
Perawatan Mesin (Maintenance)
Maintenance atau Perawatan dapat dibagi menjadi
beberapa jenis, diantaranya adalah:
1. Breakdown
Maintenance (Perawatan saat terjadi Kerusakan)
Breakdown Maintenance adalah perawatan yang
dilakukan ketika sudah terjadi kerusakan pada mesin atau peralatan kerja
sehingga Mesin tersebut tidak dapat beroperasi secara normal atau terhentinya
operasional secara total dalam kondisi mendadak. Breakdown Maintenance ini
harus dihindari karena akan terjadi kerugian akibat berhentinya Mesin produksi
yang menyebabkan tidak tercapai Kualitas ataupun Output Produksi.
2. Preventive Maintenance
(Perawatan Pencegahan)
Preventive Maintenance
atau kadang disebut juga Preventative Maintenance adalah jenis Maintenance yang
dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada mesin selama operasi
berlangsung. Contoh Preventive maintenance adalah melakukan penjadwalan untuk
pengecekan (inspection) dan pembersihan (cleaning) atau pergantian suku cadang
secara rutin dan berkala. Preventive Maintenace terdiri dua jenis, yakni :
a.
Periodic Maintenance (Perawatan berkala)
Periodic Maintenance ini
diantaranya adalah perawatan berkala yang
terjadwal dalam melakukan pembersihan mesin, Inspeksi mesin, meminyaki mesin
dan juga pergantian suku cadang yang terjadwal untuk mencegah terjadi kerusakan
mesin secara mendadak yang dapat menganggu kelancaran produksi. Periodic
Maintenance biasanya dilakukan dalam harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan.
b.
Predictive Maintenance (Perawatan Prediktif)
Predictive Maintenance
adalah perawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi kegagalan sebelum terjadi
kerusakan total. Predictive Maintenance ini akan memprediksi kapan akan
terjadinya kerusakan pada komponen tertentu pada mesin dengan cara melakukan
analisa trend perilaku mesin/peralatan kerja. Berbeda dengan Periodic
maintenance yang dilakukan berdasarkan waktu (Time Based), Predictive
Maintenance lebih menitik beratkan pada Kondisi Mesin (Condition Based).
3.
Corrective Maintenance (Perawatan Korektif)
Corrective Maintenance
adalah Perawatan yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi penyebab kerusakan
dan kemudian memperbaikinya sehingga Mesin atau peralatan Produksi dapat beroperasi
normal kembali. Corrective Maintenance biasanya dilakukan pada mesin atau
peralatan produksi yang sedang beroperasi secara abnormal (Mesin masih dapat
beroperasi tetapi tidak optimal).
Jenis-jenis Perawatan
atau Maintenance diatas perlu dipelajari dan diketahui dalam menerapkan Total
Productive Maintenance (TPM). Untuk mengukur kinerja Mesin, kita dapat
menghitungnya dengan rumus OEE (Overall Equipment Effectiveness).
2.3
Tujuan Maintenance
Adapun Tujuan dilakukannya perawatan mesin (Maintenance) adalah sebagai berikut:
1.
Mempertahankan kemampuan alat atau fasilitas produksi
guna memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan target serta rencana produksi.
2.
Mengurangi pemakaian dan pemyimpanan diluar batas dan
menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama jangka waktu yang
ditentukan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan.
3.
Menjaga agar kualitas produk berada pada tingkat yang
diharapkan guna memenuhi apa yang dibutuhkan produk itu sendiri dan menjaga
agar kegiatan produksi tidak mengalami gangguan.
4.
Mencapai tingkat biaya serendah mungkin, dengan
melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien
untuk keseluruhnannya.
2.4
Langkah
Kerja Maintenance Mesin Bubut Maximat
dan Simonet
Berikut adalah langkah-langkah proses maintenance mesin bubut maximat:
1.
Pastikan mesin dalam keadaan mati/OFF
2.
Bersihkan bagian-bagian mesin
terlebih dahulu dengan menggunakan majun dan solar. Seperti pada eretan, lintasan
luncur ulir dan batang penggerak seperti pada gearbox.
3.
Lumasi eretan dan lintasan luncur
dengan oli agar dapat bekerja secara maksimum.
4.
Buka penutup gearbox dengan menggunakan kunci L, setelah itu lumasi dengan
gemuk.
5.
Lumasi ulir pembawa dan batang
penggerak dengan gemuk agar tidak terjadi keausan.
6.
Periksa level oli pada Oil Sight Glass, jika kurang maka perlu
dilakukan penambahan.
7.
Lakukan pengecekan ulang terhadap
mesin, jika perlu hidupkan mesin untuk mengamati adanya kelainan seperti bunyi,
getaran atau kebocoran minyak pelumas, jika terdapat kelainan laporkan pada
instruktur gearbox eretan.
8. Bersihkan kembali mesin.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1.
Perawatan
Mesin dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: Breakdown Maintenance, Preventive
Maintenance, dan Correctiv Maintenance
2.
Dalam
maintenance mesin bubut Maximat dan Simonet,
pastikan mesin dalam keadaan mati dan dibersihkan bagian dalam mesin
menggunakan solar dan majun kemudian bagian gearbox diberi pelumas atau grease. Tiap komponen dicek sehingga
dapat meminimalisir resiko kerusakan.
3.
Perawatan
Mesin amat sangat perlu dilakukan secara rutin agar menjaga performa suatu
mesin tetap dalam keadaan baik.
