Archive for Januari 2016
BAB 7
MANUSIA DAN KEADILAN
A. PENGERTIAN
KEADILAN
Banyak ahli
yang mendefinisikan mengenai keadilan. Contohnya saja seperti Plato yang
mendefinisikan keadilan sebagai kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan
diartikan sebagai titik tengah diantara ke dua ujung extreme Yang terlalu
banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung extreme itu menyangkut benda dan
seseorang dan orang tersebut harus memperoleh benda yang bernilai sama.
Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan yang telah melaksanakan
tugasnya dengan baik.
Namun,
menurut pendapat yang lebih umum, keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan
yang seimbang antara hak dan kewajibann. Bilamana Hak yang dituntut telah
terpenuhi dan kewajiban yang dilakukan telah dilaksanakan.
B. KEADILAN
SOSIAL
Bung Hatta
dalam uraiannya mengenai Pancasila sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia” menulis sebagai berikut “keadilan social adalah
langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur.”
Menunjukkan suatu Negara akan makmur bila keadilan dan kesejahteraan
masyarakatnya telah terpenuhi.
Dalam
ketetapan MPR RI No.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengamalan
pancasila dicantumkan ketentuan sebagai berikut:
Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk
menciptakan keadilan social dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Diperinci
perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk, yakni:
1. Perbuatan
luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2. Sikap adil
terhadap sesame, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta
menghormati hak-hak orang lain.
3. Sikap suka
memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan.
4. Sikap suka
bekerja keras.
5. Sikap
menghargai karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
Asas agar
terciptanya keadilan social:
1. Pemerataan
pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
2. Pemerataan
pendidikan dan kesehatan.
3. Pemerataan
pembagian pendapatan.
4. Pemerataan
kesempatan kerja.
5. Pemerataan
kesempatan berusaha.
6. Pemerataan
kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya generasi muda.
7. Pemerataan
pembangunan di setiap daerah.
8. Pemerataan
kesempatan memperoleh keadilan
C. BERBAGAI
MACAM KEADILAN
A. Keadilan
Legal atau Keadilan Moral
Plato
berpendapat bahwa keadilan dan hokum merupakan substansi rohani umum dari
masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang
adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya.
Pendapat Plato itu disebut keadilan moral. Sedangkan, Sunoto menyebutnya
keadilan legal.
B. Keadilan
Distributif
Aristoteles
berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak
sama. Contohnya, Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5 tahun.Bila Ali
mendapat imbalan Rp. 100.000 maka Budi menerima Rp. 50.000 karena Ali bekerja
dua kali lebih lama dari Budi.
C. Keadilan
Komutatif
Keadilan
ini bertujuan memlihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi
Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian kejadian dan
ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim
menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian
dalam masyarakat.
D. KEJUJURAN
Kejujuran
artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang
dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Orang bodoh yang jujur lebih
baik daripada orang pintar yang bohong.
Kejujuran
bersangkut erat dengan masalah nurani. Menurut M. Alamsyah dalam bukunya Budi
Nurani, filsafat berfikir, yang disebut nurani adalah sebuah wadah yang ada
dalam perasaan manusia. Wadah ini menyimpan suatu getaran kejujuran, ketulusan
dalam meneropong kebenaran local dan ilahi. Selain nilai etis yang ditunjukkan
kepada sesame manusia, hati nurani berkaitan erat juga dalam hubungannya dengan
Tuhan.
Bagi
seniman kejujuran dan ketidakjujuran membangkitkan daya kreatifitas manusia.
Banyak hasil seni yang lahir karenanya. Untuk
mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap perlu dipupuk. Namun
demi sopan santun dan pendidikan, orang diperbolehkan berkata tidak jujur
sampai pada batas-batas yang dapat dibenarkan.
E. KECURANGAN
Kecurangan
identic dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik.
Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan
yang berlebihan dan sebagainya. Ada empat aspek manusia melakukan kecurangan
yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban, aspek teknik. Bila
manusia melangar norma aspek tersebut dan dalam hatinya terdapat tamak, iri,
dengki maka jadilah kecurangan. Tentang baik dan buruk Pujowiyatno dalam
bukunya “filsafat sana-sini” menjelaskan bahwa perbuatan yang sejenis dengan
perbuatan curang, misalnya membohong, menipu, merampas, memalsukan, dan lain
lain adalah bersifat buruk.
F. PEMILIHAN
NAMA BAIK
Nama baik
adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang dengan hati-hati menjaga nama
baiknya, apalagi bila ia adalah seorang teladan bagi orang lain. Ada peribahasa
berbunyi “daripada berputih mata lebih baik berputih tulang” artinya orang
lebih baik mati daripada malu. Betapa besar nilai nama baik itu sehingga nyawa
menjadi taruhannya.
Penjagaan
nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Tingkah laku
atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan
kodrat manusia, yaitu:
a. Manusia
menurut sifat dasarnya adaah makhluk moral
b. Ada
aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan
dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
Pada
hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala
kesalahannya: bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau
akhlak. Ada tiga godaan yaitu pangkat, harta dan wanita. Bila orang tidak dapat
menguasai hawa nafsunya, maka ia akan terjun ke dunia kenistaan karena untuk
mendapatkan pangkat, harta dan wanita itu dengan menggunakan jalan yang tidak
wajar. Untuk memulihkan nama baik, manusia harus tobat atau minta maaf. Tidak
hanya dibibir, namun juga melalui perbuatan.
G. PEMBALASAN
Pembalasan
adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa
perbuatan yang serupa ataupun tidak. Sebagai contoh, A memberikan makanan
kepada B. Di lain kesempatan B memberikan minuman kepada A. perbuatan tersebut
merupakan perbuatan serupa, dan merupakan pembalasan. Pembalasan disebabkan
oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang
bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan
yang tidak bersahabat pula.
Pada
dasarnya manusia adalah makhluk moral dan social. Dalam bergaul harus mematuhi
norma-norma yang ada dan jangan mengganggu hak dan kewajiban orang lain. Oleh
karena itu tiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilangar, maka
manusia berusaha mempertahankan hak dan
kewajibannya itu.
BAB 8
MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A. PENGERTIAN
PANDANGAN HIDUP
Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pandangan, pedoman, arahan petunjuk hidup di dunia ini. Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya terdiri dari 3 macam:
Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pandangan, pedoman, arahan petunjuk hidup di dunia ini. Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya terdiri dari 3 macam:
a. Pandangan
hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
b. Pandangan
hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang
terdapat pada negara tersebut.
c. Pandangan
hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.
Apabila
pandangan hidup itu diterima oleh suatu kelompok atau organisasi, maka itu
disebut ideologi. Pandangan hidup pada dasarnya memiliki unsur-unsur, yaitu
cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan.
B. CITA-CITA
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Itu semua diperoleh dimasa mendatang. 3 faktor yang mempengaruhi manusia untuk mencapai cita-citanya yaitu factor manusia, kondisi, dan seberapa tinggi cita-cita yang ingin dicapai
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Itu semua diperoleh dimasa mendatang. 3 faktor yang mempengaruhi manusia untuk mencapai cita-citanya yaitu factor manusia, kondisi, dan seberapa tinggi cita-cita yang ingin dicapai
Faktor manusia tentunya adalah
kualitas manusia tersebut apakah sudah bisa mendapatkan cita-citanya ataukah
masih perlu berusaha lebih giat lagi. Faktor kondisi adalah apakah kondisi
untuk mencapai cita-cita tersebut me4rupakan kondisi yang menguntungkan atau
kondisi yang menghambat sehingga mempengaruhi kelancaran pencapaian cita-cita.
Faktor seberapa tinggi cita-cita ini maksudnya adalah sesuai dan bisa dilakukan
dan sesuai dengan kemampuannya. Itu lah yang harus diperitmbangkan terlebih
dahulu.
C. KEBAJIKAN
Kebajikan atau kebaikan adalah perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan sama dengan perbuatan moral, agama dan etika. Manusia berbuat baik karena pada kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral dan atas dorongan suara hatinya.
Kebajikan atau kebaikan adalah perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan sama dengan perbuatan moral, agama dan etika. Manusia berbuat baik karena pada kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral dan atas dorongan suara hatinya.
Sesuatu yang baik bagi masyarakat,
berarti baik bagi kepentingan masyarakat. Tetapi dapat saja terjadi, bahwa
sesuatu kepentingan umum bisa jadi tidak baik bagi kepentingan salah seorang
atau segelintir orang. Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku seseorang ada
tiga. Pertama pembawaan (hereditas) yang telah ditentukan pada saat dalam
kandungan, kedua adalah lingkungan yang dapat membentuk seseorang dari luar.
Faktor ketiga adalah pengalaman khas yang diperoleh seseorang tersebut.
D. USAHA /
PERJUANGAN
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Untuk bekerja keras, manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan yang terbatas maka dari itu timbullah perbedaan kemakmuran antar setiap manusia. Kemampuan terbatas pada fisik dan keahlian. Maka dari itu mencari keahlian atau keterampilan adalah suatu keharusan.
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Untuk bekerja keras, manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan yang terbatas maka dari itu timbullah perbedaan kemakmuran antar setiap manusia. Kemampuan terbatas pada fisik dan keahlian. Maka dari itu mencari keahlian atau keterampilan adalah suatu keharusan.
E. KEYAKINAN /
KEPERCAYAAN
Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada tiga filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.
1. Aliran Naturalisme
Hidup manusia itu dihubungkan oleh kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Ada ajaran Dogmatis ( Ajaran Tuhan disampaikan melalui nabi dan bersifat mutak, seperti Alqur’an dan Hadist) da nada ajaran dari pemuka agama, hasil dari pemikiran, sifatnya relative.
2. Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah logika/akal. Dengan akal manusia berpikir. Akal berasal dari bahasa Arab yang artinya kalbu yang berpusat di hati. Di kalangan barat banyak menganut logika sedangkan timur menganut hati nurani.
3. Aliran Gabungan
Dasar aliran ini adalah akal logika dan kekuatan gaib. Jadi apa yang dipikir oleh akal juga dapat diterima oleh hati.
Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada tiga filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.
1. Aliran Naturalisme
Hidup manusia itu dihubungkan oleh kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Ada ajaran Dogmatis ( Ajaran Tuhan disampaikan melalui nabi dan bersifat mutak, seperti Alqur’an dan Hadist) da nada ajaran dari pemuka agama, hasil dari pemikiran, sifatnya relative.
2. Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah logika/akal. Dengan akal manusia berpikir. Akal berasal dari bahasa Arab yang artinya kalbu yang berpusat di hati. Di kalangan barat banyak menganut logika sedangkan timur menganut hati nurani.
3. Aliran Gabungan
Dasar aliran ini adalah akal logika dan kekuatan gaib. Jadi apa yang dipikir oleh akal juga dapat diterima oleh hati.
F. LANGKAH-LANGKAH
BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK
Manusia pasti memiliki pandangan hidup bagaimanapun bentuknya dan itu tergantung dari orang tersebut bagaimana memperlakukan pandangan hidupnya. Yang terpenting adalah kita mempunyai langkah-langkah berpandangan hidup afar kita dapat memperlakukan pandangan hidup kita sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Langkah-langkah itu adalah Mengenal (mencari tahu pandangan hidup), Mengerti (memahami pandangan hidup), Menghayati (memperdalam pengetahuan yang berkaitan dengan pandangan hidup tersebut), Meyakini (memberikan kepastian tentang pandangan hidup tersebut, penerimaan dengan ikhlas), Mengabdi (mengamalkannya), dan mengamankan (melindungi pandangan dari fitnah dan orang yang mengganggu).
Manusia pasti memiliki pandangan hidup bagaimanapun bentuknya dan itu tergantung dari orang tersebut bagaimana memperlakukan pandangan hidupnya. Yang terpenting adalah kita mempunyai langkah-langkah berpandangan hidup afar kita dapat memperlakukan pandangan hidup kita sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Langkah-langkah itu adalah Mengenal (mencari tahu pandangan hidup), Mengerti (memahami pandangan hidup), Menghayati (memperdalam pengetahuan yang berkaitan dengan pandangan hidup tersebut), Meyakini (memberikan kepastian tentang pandangan hidup tersebut, penerimaan dengan ikhlas), Mengabdi (mengamalkannya), dan mengamankan (melindungi pandangan dari fitnah dan orang yang mengganggu).
BAB 9
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A. PENGERTIAN
TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga maksudnya adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga maksudnya adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
Seseorang mau bertanggung jawab
karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertianatas segala perbuatan dan
akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Tanggung jawab bersifat kodrati, artinya
sudah menjadi bagian kehidupan manusia. Manusia bertanggung jawab karena
manusia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya dan menyadari ada pihak
lain yang memerlukan pengabdian atau pengorbanannya.
B. MACAM-MACAM
TANGGUNG JAWAB
a. Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
Menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah kemanusian mengenai diri sendiri.
b. Tanggung Jawab terhadap Keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Tiap anggota wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakjan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
c. Tanggung Jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusia merupakan makhluk social yang membutuhkan makhluk lainnya sehingga terjalin interaksi dan komunikasi. Sehingga demikian manusia disini bagian dari masyarakat dan wajar bila segala tingkah lakunya harus dipertanggung jawabkan keada masyarakat.
d. Tanggung Jawab kepada Bangsa/Negara
Tiap manusia, individu adalah warga Negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran yang dibuat Negara sehingga bila ada kesahalan perbuatan mereka bertanggung jawab pada Negara.
e. Tanggung Jawab terhadap Tuhan
Untuk mengisi kehidupannya, manusia memiliki tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama.
a. Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
Menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah kemanusian mengenai diri sendiri.
b. Tanggung Jawab terhadap Keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Tiap anggota wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakjan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
c. Tanggung Jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusia merupakan makhluk social yang membutuhkan makhluk lainnya sehingga terjalin interaksi dan komunikasi. Sehingga demikian manusia disini bagian dari masyarakat dan wajar bila segala tingkah lakunya harus dipertanggung jawabkan keada masyarakat.
d. Tanggung Jawab kepada Bangsa/Negara
Tiap manusia, individu adalah warga Negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran yang dibuat Negara sehingga bila ada kesahalan perbuatan mereka bertanggung jawab pada Negara.
e. Tanggung Jawab terhadap Tuhan
Untuk mengisi kehidupannya, manusia memiliki tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama.
C. PENGABDIAN
DAN PENGORBANAN
a. Pengabdian
Adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pada hakekatnya sebuah tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk menckupi kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.
b. Pengorbanan
Berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian.
By:
Nama : M. Irfan Andhika Nugraha
NPM : 33415959
Kelas : 1ID10
Universitas Gunadarma
a. Pengabdian
Adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pada hakekatnya sebuah tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk menckupi kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.
b. Pengorbanan
Berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian.
By:
Nama : M. Irfan Andhika Nugraha
NPM : 33415959
Kelas : 1ID10
Universitas Gunadarma


